Dibalik Beting Street Art III (Part 1)

BETING STREET ART III

oleh: Rain Rosidi

Mus Art

Hikayat berdirinya kota Pontianak tidak bisa dilepaskan dari kisah sebuah kampung yang berdiri di atas pertemuan dua sungai besar di kota itu, Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Konon kampung yang dinamai Beting ini adalah titik di mana peluru meriam Syarif Abdurrahman dijatuhkan, sebagai penanda wilayah kesultanan Pontianak dan sekaligus pengusir hantu Kuntilanak. Hikayat ini menunjukkan betapa pentingnya kampung ini dalam sejarah berdirinya kota Pontianak.

20953308_10209582381265681_3174983145952140703_n 20882523_10209581272157954_2124736073946982312_n

Namun hikayat ini seolah tenggelam dalam sepak terjang kampung ini di masa kini. Pertumbuhan kota Pontianak yang semakin meriah dan glamour menyisakan bagian sisi hitam kota. Beting menjadi wilayah yang lebih dikenal sebagai tempat perdagangan narkoba dan aktivitas minor lainnya. Kampung ini, bahkan mendapat stigma negatif dan dijauhi warga kota bagian lain. Menurut cerita beberapa warga kota, mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di kampung ini karena enggan dan kawatir, walau lokasinya berada di tengah kota Pontianak.

Pemerintah kota dan bermacam lembaga swadaya masyarakat sudah melakukan banyak cara untuk merubah kampung ini, baik secara fisik maupun lingkungan sosialnya. Kenyataannya, situasi kampung ini masih belum beranjak jauh dari stigma negatif yang disandangnya.

20770516_10209558837997114_337329733049217643_n Anggita Diah 2 Anggita Diah Ainul Mahmudah

Beberapa seniman Pontianak baik yang senior maupun yunior, dan komunitas anak muda mencoba melakukan pendekatan berbeda untuk menyentuh persoalan di kampung Beting, yaitu melalui seni dan budaya. Digagaslah sebuah acara yang dinamai Beting Street Art. Acara ini melibatkan beberapa seniman dan komunitas untuk menggunakan seni rupa terutama mural sebagai sarana untuk menyapa dan berbincang dengan warga.

Dari program menggambar tembok ini, bergerak pulalah kegiatan-kegiatan seni yang lain yang beberapa sudah menjadi bagian dari keseharian warga kampung, seperti Marawis, pagelaran musik, Tari Jepin, Hadrah, dan Rebana. Selain itu didirikan pula rumah kreatif sebagai tempat menyajikan produk seni dan workshop. Kegiatan ini tidak sekadar menghibur warga, namun juga membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi tumbuhnya saling memahami di antara warga kampung sendiri, maupun kampung Beting sebagai bagian penting dari kota Pontianak.

Beting Street Art (BSA) yang ketiga ini dilaksanakan mulai tanggal 13 sampai dengan 20 Agustus 2017 yang diinisiasi oleh Forum Pemerhati Wisata Alam (FPWA) Kalimantan Barat dan didukung penuh oleh berbagai komunitas serta instansi Pemerintahan Kota Pontianak. BSA 3 merupakan kelanjutan dari kegiatan Beting Street Art pada tahun 2014 dan Beting Street Art 2 pada tahun 2016.

 

Photo by: Gusty, Anggita Diah, Mus Art, Ainul Mahmudah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *